Contoh Cerpen Pengalaman Orang lain

 

CONTOH CERPEN

 

PENGALAMAN ORANG LAIN

 

“KUTUKAN SEPINTAS MELODI”

 

PEMENUHAN KD 18

 

DIBUAT OLEH :

“REYNALDO R.K MONTOLALU

KELAS X-I

 

 

SMA KRISTEN 2 (BINSUS) TOMOHON

Tak terasa setahun telah berlalu memberikan kenangan indah yang sulit untuk dilupakan, sinar mentari kembali menyinari wajah. Tak disadari Ricko terlelap ketika menistirahatkan tubuhnya yang diisi dengan segudang kepenatan, dan melambungkan pandangannya ke arah jalan raya di mana menjadi saksi bisu kisah yang terlanjur terukir dalam dirinya. Fanny telah meninggalkan dirinya dan meninggalkan kenangan yang masih ada hingga saat ini. Kini Ricko hanya sendiri dan terus melakukan aktivitasnya sebagai pegawai tetap disalah satu perusahaan tour and travel. Menghadapi urusan yang sulit untuk ditinggalkan membuatnya jarang untuk bersantai dan melepas kepenatan.

Kerja hari ini berjalan seperti biasanya, tak ada hal yang menarik bagi Ricko kecuali kenangan yang kembali terngiang itu ketika ia dan Fanny selalu bersama. Malam ini ia harus menghadiri peringatan setahun kepergian Fanny dirumah tante dan om yang juga selalu menaruh perhatian terhadap Ricko, tiada kesedihan lagi terlukis dalam raut wajah orang tua Fanny, mereka sudah mengikhlaskan kepergiannya untuk menghadap Sang Pencipta. “ Eh, ada nak Ricko masuk nak, om dan tante sudah menunggumu”. “Oh ia tante, om”. Keluarga Fanny sangat baik padanya, mungkin sebagai tanda terima kasih karena selama masa hidupnya Ricko yang selalu memperhatikan Fanny.

“Heh!!!! Kenapa kamu kembali kemari, apa belum puas membuat keluarga kami sakit hati???” ucapan pedas terlontar dari Mega adik Fanny yang mungkin masih belum dapat menerima dan merelakan kepergian kakak satu-satunya.

“Rumah ku tuh,,sepi tidak ada kakak dan itu semua gara-gara kamu!!!” tambah Mega.

 “Mega apa-apaan kamu ini, mama itu tidak mengajarkan kamu tidak sopan seperti ini. Apa maksud kamu bentak bentak nak Ricko, ini bukan salahnya dia. Fanny memang sudah saatnya dipanggil Sang Pencipta, dan kamu harus menerima itu” tegas mamanya Mega.

“Ia nak seharusnya kamu harus berterima kasih kepada nak Ricko karena dia yang menjaga kakak kamu semasa hidupnya”  tambah papanya.

Mendengar semua percakapan itu Ricko hanya diam saja dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, juga sudah tidak enak hati untuk menghabiskan secangkir teh yang dipegangya.

“Nak Ricko, tidak usah dimasukkan ke dalam hati yah semua perkataan Mega tadi, mungkin dia masih sulit untuk melepaskan kakaknya yang selalu bersamanya”

“Oh,ia tidak apa-apa kok tante mungkin saya juga yang tidak menjaga Fanny dengan sebaik mungkin”

“Ah tidak kok nak, ini sama sekali bukan salahnya kamu ini memang sudah waktunya saja. Ayo nak habiskan tehnya”

“Oh,ya tante sebaiknya Ricko kembali dulu yah. Nanti kapan-kapan kalau ada waktu Ricko kembali lagi kemari, yah tane, om”

“Loh, kenapa sudah mau pulang ? Tapi baiklah toh nak Ricko harus bekerja kembali besok,  hati-hati yah nak” kata tante dengan sedikit ragu-ragu.

Malam ini ia menghabiskan waktunya dengan bermain piano tua di gedung kuno yang biasanya dimainkan bersama dengan Fanny. Lagu “Fur Elise” membuat suasana lebih terasa tenang. Sampai sebuah bunyi yang berasal dari rak buku membuatnya terhenti, ternyata sebuah kotak yang  berasal dari  atas rak yang dipenuhi oleh buku-buku yang sudah tua, ia melirik dan kemudian menghampirinya. Kotak berwarna hitam yang penuh debu, Ricko segera mengambilnya kemudian membersihkannya. Tertulis sebuah tulisan “Kenangan indah yang tidak akan pudar”. Ia sedikit bingung dengan arti tulisan itu, kemudian ia beranjak dari tempat itu. Tak lupa dibawanya kotak musik itu. Kemudian di kasurnya sambil meMegang kotak music itu, diliriknya bentuk kotak music itu dan seperti ada ukiran sebuah nama Flaverda Lavenium. Mengapa di tempat seperti itu ada benda seperti ini? Untuk mengatasi semua rasa penasarannya, ia mencoba untuk membuka kotak music itu. Tetapi tak berhasil kotak itu terkunci. Rasa penasaran terus membelenggu dirinya, kemudian ia  tertidur.

Krrrrrrringgg……. Kringggggg bunyi alaram yang sudah menunjukkan jam 06.00 pagi terus berbunyi sampai pada akhirnya ia terbangun. Waktu untuk bekerja dan memulai hari yang baru, walaupun ada semangat yang baru dalam dirinya namun rasa penasaran itu masih terngiang terus di benaknya bahkan sambil melambungkan mobilnya ia terpikir untuk kembali ke gedung tua itu akhirnya keputusan itu diambilnya dan memutar balik mobilnya kearah ujung jalan dan menemukan gedung tua itu. Tak ia sadari ada seorang bapak tua yang memperhatikannya sedari ia masuk ke gedung itu. Kakek itu bepakaian ala orang Spanyol yang sepertinya adalah orang yang merawat gedung itu. Sempat terpikir juga dalam diri Ricko bahwa Flaverda Lavenium nama yang terukir di kotak music itu pernah tinggal ditempat ini karena nama itu tampak seperti nama orang Spanyol.

Tanpa rasa takut, ia menghampiri bapak tua itu yang akan beranjak pergi dari tempat itu dan menemukan dirinya terbatuk-batuk seperti belum makan selama beberapa hari.

“Permisi pak, apa bapak penjaga gedung ini?” katanya  dengan sedikit rasa ragu-ragu.

Bapak tua itu tetap melanjutkan perjalannya dan sepertinya tidak menghiraukan perkataan Ricko, tampaknya bapak tua itu sedang menuju ke ruangan tempat piano yang biasanya dikunjungi Ricko. Awalnya tempat itu tidak sengaja ditemukan ketika  dia dan Fanny berteduh saat hujan. Pada saat itu  Ricko menyusuri setiap tempat di gedung itu, karena rasa ingin tahu yang tinggi. Tak sengaja ia menemukan ruangan berisi piano yang agak tua dan memainkannya. Waktu demi waktu pun berjalan, dalam membangun cintanya dengan Fanny mereka sering mengunjungi tempat itu didukung pula dengan kemampuan yang mereka miliki yaitu bermain piano. Tetapi dalam setiap saat mereka mengunjungi tempat itu mereka tidak pernah bertemu dengan bapak tua yang dilihat Ricko. Sebenarnya siapa dia? Kembali Ricko menegur bapak tua itu dengan membawa dirinya semakin mendekat kearah bapak itu dengan harapan ada sahutan balik yang dibalas oleh bapak tua itu.

“Permisi, pak kalau boleh tahu bapak penjaga gedung ini yah?” kalimat itu kembali lagi terucap oleh Ricko

“ Ia, memangnya kamu siapa? Mengapa kamu datang kemari?” jawab bapak itu dengan nada yang suram.

“Saya Ricko pak, dan sebenarnya ini bukanlah kunjungan yang pertama bagi saya, saya datang kemari sudah sejak sekitar dua tahun lalu dan sebenarnya saya belum pernah melihat bapak. Memangnya selama ini bapak kemana? Mengapa saya baru bertemu bapak sekarang?”

“Itu bukan urusanmu, jadi sebenarnya mengapa kamu datang kemari ? “

“Jadi begini pak kemarin saya datang ke tempat ini dan saya menemukan sebuah kotak musik yang setelah saya periksa tertulis sebuah nama Flaverda Lavenium sebenarnya dia itu siapa pak apa bapak mengenalnya? “ Tanya Ricko dengan penuh rasa penasaran.

“Flaverda Lavenium, dia adalah pemilik rumah ini kira-kira sejak lebih dari seratus tahun yang lalu tinggal di rumah ini keluarga mereka adalah keluarga yang tidak dikaruniakan anak dan saya adalah cucu dari penjaga rumah ini segala keperluan rumah ini adalah tanggung jawab dari kakek saya, memang saya tidak pernah melihat pemilik rumah ini karena sangat tidak mungkin untuk melihatnya dengan waktu yang sudah terlampau lama. Semua tentang rumah ini hanya diceritakan oleh ayah saya. Keluarga ini tidak pernah dikaruniai anak sampai mereka meninggal. Kematian mereka sangatlah tragis, mereka akhirnya bunuh diri karena sampai tua tidak mendapatkan anak. Akhirnya sebagai bentuk pengabdian kepada keluarga ini, kakek dan ayah sayalah yang menjaga rumah ini sehingga sampai zaman sekarang ini rumah ini tetap ada” Ricko termangu mendengar penjelasan dari bapak tua itu.

“Jadi selama ini saya masuk seenaknya ke rumah yang ternyata masih ada penjaganya yah pak? Kalau begitu saya minta maaf dengan segala kelancangan saya”

“Sebenarnya setahun lebih yang lalu ada seorang wanita yang kira-kira berusia dua puluh lima tahun datang kemari dan kebetulan saya sedang ada ditempat ini, ia masuk ke ruangan piano dan menemukan kotak musik itu dibukanya kemudian dengan membawa kuncinya ia pergi meninggalkan tempat itu kira-kira pada tanggal 17 Maret 2001.”

“Apaa.…? Itu kan tanggal dimana Fanny meninggal, sekarang aku tahu dia kecelakaan sepulang dari tempat ini, astagaa….Fanny” Rasa kepedihan itu kembali timbul dalam dirinya, ia juga mengingat hari itu adalah hari dimana mereka janjian untuk bermain piano tetapi Ricko tidak dapat memenuhinya karena ada urusan yang terlampau penting, dan berarti pada saat itu tanpa ditemani Ricko Fanny pergi sendirian saja.

“Jadi seperti itu ceritanya, mungkin itu adalah kutukan dari alat music itu karena menurut cerita pemilik rumah ini mati dengan meMegang kotak music itu. Mereka bunuh diri ditemani alunan musik yang keluar dari kotak itu”.

“Kutukan ? Dimasa sekarang ini mana ada yang namanya kutukan? Ini memang adalah waktunya dia untuk menghadap sang pencipta” Ricko langsung meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumahnya dia tidak bekerja hari ini

Di jalan menuju rumahnya ia teringat dengan kalung yang berbuahkan sebuah kunci, yang dipegang Fanny pada saat terjadi kecelakaan ia merasa bahwa itu adalah kunci yang dapat membuka kotak music itu, dengan kecepatan maksimal ia mengendarakan mobilnya semakin cepat untuk Megambil kalung itu yang ia letakan di laci kamarnya. Sesampainya tanpa basa basi lagi ia langsung naik ke atas dan segera mendapatkan tujuannya .Diambilnya kalung itu dan dipasangkan ke kotak musik itu. Ternyata pas dan “klik” kotak music itu terbuka dan lagi-lagi musik dengan irama Fur Elise terdengar menyimpan berbagai misteri. Lagu itu berjalan terus dan mengheningkan suasana. Tiba-tiba seberkas cahaya keluar dari kotak music itu dan secepatnya Ricko membuang kotak music itu di atas tempat tidurnya. Dan… hal yang tak terduga dan sangat mustahil terjadi.

“Ka… kamu Fanny ? Tidak mungkin!”

“Ya, Ric aku Fanny terima kasih kamu telah menyelamatkanku, sebenarnya ketika aku membawa kunci kotak music itu jiwaku  terhembus masuk di dalam kotak itu melalui kuncinya dan sebenarnya ketika kecelakaan itu terjadi jiwaku memang sudah tidak ada lagi, kamu boleh tidak percaya karena ini memang terasa tabu tapi memang seperti inilah yang terjadi Ric, kotak music itu memang membawa kutukan. Sekarang kamu harus membawaku ke jasadku supaya aku bisa hidup tenang Ric, dan jangan lupa supaya kamu menghancurkan kotak music itu”

“Yah, aku memang sudah melepaskanmu Fan karna kita berada di antara dua dunia yang berbeda tapi apa aku harus mengatakan semua ini keorangtuamu?”

“Sebaiknya tidak usah Ric aku tidak mau lagi menambah kesedihan mereka”

“Baiklah Fan, sekarang ini juga aku akan membawa kamu ke tempat kamu dimakamkan” Tanpa rasa takut malam itu juga Ricko masuk ke pemakaman dan menggali kembali makam Fanny.

“Terima kasih yah Ric, sekarang aku akan hidup dengan tenang”

“Fan, aku selalu mencintaimu Fan”.

“Ya, aku juga Ric. Kamu harus mencari penggantiku Ric, untuk memperhatikanmu. Selamat tinggal Ric”

Kalimat terakhir yang dikatakannya, membuat Ricko hanya termangu melepaskannya.

“Hey, sedang apa kamu disitu?” kata seorang penjaga kuburan sambil menghampirinya

“Hmm, tidak kok pak saya hanya melihat makam matan pacar saya, saya sangat merindukannya pak”

“Mengapa kamu bongkar makamnya, saya tahu…pasti kamu pencuri kan?”

“Eh, bukan pak” Ricko ingin menjelaskan kepada penjaga kubur itu tetapi pasti akan sia-sia kerena pasti dia tidak akan percaya dengan apa yang telah terjadi.

Karena panik Ricko lari meninggalkan pemakaman dan berhasil, tidak ada yang mengejarnya karena berhubung penjaga kuburan itu hanyalah seorang bapak yang sudah berusia tua. Untung saja setelah kejadian itu, tidak terkabar sampai kemasyarakat luas bahwa ada makam yang dibongkar oleh seorang pemuda yang masih mencintai pacar yang sudah meninggal. Mungkin karena setelah diperiksa tidak ada tanda-tanda pencurian yang terjadi dimakam itu.

Setelah kejadian-kejadian itu Ricko selalu bekerja dengan baik, dan selalu bekerja dengan tepat waktu. Dikantornya Ricko terkesan supel dan beda dari biasanya, orang-orang semakin suka dengan sikap Ricko. Sampai pada suatu waktu….

“Ricko…” panggil bosnya di tempat ia bekerja.

“Ada apa pak, ada yang bisa saya bantu?”

“Jadi begini, saya perhatikan kamu dikantor ini semakin rajin daripada karyawan-karyawan yang lain jadi saya bermaksud untuk mengangkat kamu menjadi koordinator dikantor ini, nanti tugas kamu adalah mengantar para client yang akan melaksanakan kegiatan tour, apa kamu mau”

“Oh ia pak, tentu saja saya mau” tanggap Ricko yakin.

“Oke, kalu begitu kamu sudah harus mulai bekerja besok hari, karena ada client yang akan memakai jasa tour and travel kita. Mereka akan mengadakan perjalanan ke Manado, dan kamu akan ditemani pak Yanto, karena ia sudah berpengalaman”  jelas pak Sudibjo selaku bos di perusahan itu.

Sekarang sudah tidak ada lagi beban pikiran yang terkesan berat yang harus dipikirkannya karena kejadian suram itu lama-kelamaan memudar dari dirinya. Ricko mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya mulai dari pakaian, sepatu, koper dan kebutuhan selama beberapa hari lainnya. Ia sudah siap untuk memulaikan pekerjaan baru ketika diangkat sebagai coordinator perusahan. Pagi-pagi itu ia berangkat ke bandara dan segera bertemu dengan client pertamanya. Seorang bapak dan ibu yang kira-kira berumur 52 tahun berdiri di depan rumah makan terkenal yang terletak di depan pintu masuk bandara. Segera mereka menyapa Ricko, mereka mengenalinya dari pakaian yang ia pakai bertuliskan Happy Tour and Travel. Mereka melambaikan tangan dan Ricko segera menuju mereka.

“Permisi pak, bu. Apa bapak dan ibu yang bernama bapak Jordan dan Ibu Selly? “ Tanya Ricko dengan sopan.

“Oh ia, jadi bagaimana prosedur tournya? “

“Sekarang bapak dan ibu silahkan duduk disini dulu, kita akan menunggu seorang karyawan juga dari perusahan kami untuk bersama-sama dengan kita”

“Oh ya, Rafi ayo nak kita sudah mau berangkat” panggil bu Selly kepada anaknya yang sedang membayar sekotak roti ditoko di depan mereka.

Setelah menunggu beberapa lama pak Yanto akhirnya datang, bertepatan dengan jam terbang yang tinggal 10 menit. Semua penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan 48876 segera naik. Tak lama kemudian pesawat segera take of. Semuanya tertidur dan kembali terbangun setelah seorang pramugari menyampaikan bahwa pesawat akan segera melakukan landing. Mereka semua sudah tidak sabar untuk segera mengabiskan liburan di kota yang aman, seperti manado. Tidak pernah terdengar keributan dan kekacauan di kota ini makanya mereka memilih tempat ini untuk dijadiikan tempat berlibur. Ricko dan pak Yanto membawa mereka ke sebuah hotel yang terkenal di kota itu. Waktu-waktu mereka dihabiskan dengan mengunjungi tempat-tempat parawisata. Ketika pada saat melaksanakan pekerjaannya yaitu mengantar mereka ke tempat yang telah dijadwalkan dan memuaskan mereka. Tiba-tiba ada seorang wanita yang membuat Ricko teringat kembali akan masa-masa pilu itu. Sesosok perempuan yang mengingatkannya pada Fanny. Sempat mebuatnya kaget dan segera menghamprinya tanpa rasa malu.

“Hai, selamat sore. Boleh kita kenalan? “ sapa Ricko dengan ramah.

“Oh ia boleh, nama saya Finny” balasnya.

`           Ada rasa menggelitik diri Ricko karena mendengar namanya yang hampir sama dengan mantan pacarnya, sosoknya hampir sama pula. Setelah bercakap begitu lama, Ricko pun tahu bahwa Finny juga datang dari Jokjakarta dimana tempat tinggalnya hanya berkisar 40 km dari rumah Ricko. Dan Ricko juga tahu bahwa ia akan pulang pada tanggal yang sama dengan masa berakhir program tournya. Sungguh kebetulan apalagi ketika Ricko tahu bahwa Finny belum mempunyai pacar dan dalam benaknya ia ingin melamar Finny sebagai pacarnya. Lusa adalah hari ketika mereka akan balik ke Jokjakarta dan sehari sebelum keberangkatan Ricko dan Finny sudah saling berbincang lewat telepon genggam untuk bertemu di bandara dan pulang ke Jokjakarta bersama.

            Hari untuk kembali sudah di depan mata Ricko sudah tiba di bandara lebih dulu daripada Finny. Setelah beberapa waktu menunggu, disertai rasa tidak enak hati kepada clientnya akhirnya Finny datang juga.

“Maaf yah Ric, soalnya tadi aku terjebak macet padahal dikota seperti ini jarang sekali terjadi macet”

“Oh, ia tidak apa-apa kok, ayo Fin kita masuk aja tinggal 10 menit lagi tuh pesawatnya take of”

Mereka segera masuk dan duduk ditempat yang telah ditentukan, lebih kebetulannya lagi Ricko dan Finny duduk disatu bagian tempat duduk pesawat, mereka duduk bersebelahan. Ricko semakin bersemangat, tentu saja ini merupakan kesempatan yang besar untuk Ricko dalam misinya melamar Finny. Sepertinya berjalan dengan mulus, hanya dalam beberapa waktu di pesawat Ricko telah mengetahui sebagian latar belakang dari Finny melalui perbincangan kecil, padahal mereka baru saja  bertemu beberapa waktu yang masih belum lama. Pesawat tiba di Jokjakarta dan pekerjaan pertama Ricko dalam tour and travel pun berhasil.

 Seiring waktu berjalan hubungan Ricko dan Finny semakin baik, dan keduanya semakin berpikir untuk menuju kehubungan yang lebih serius. Apabila tidak ada halangan Ricko akan melamar Finny akhir bulan yang berjalan ini untuk menikah. Keduanya telah direstui oleh orang tua.

 

3 TAHUN KEMUDIAN

 

“Fin, aku sudah tidak tahu lagi mau berbuat apa, berbagai cara telah kita usahakan tapi apa? Sampai sekarang ini kita belum mendapatkan keturunan!”

            Setelah 2 tahun perkawinan Ricko dan Finny belum mendapatkan keturunan, mereka sudah melakukan berbagai cara tetapi semua itu tidak berhasil, program bayi tabung sudah mereka coba tapi semua itu sia-sia, tak berhasil. Mereka sudah terlanjur patah semangat dan hilang harapan. “dukk, pltakk, bfffhh” suara itu sepertinya datang dari kamar bagian atas. Finny segera berlari keatas kamar.

            “Ric, apa yang kamu lakukan ? “ Tanya Finny tergesa-gesa.

            “Fin, aku sudah tidak tahu lagi mau berbuat apa!”

Semua barang yang berada dikamar itu ditendangnya, karena rasa geramnya. Dan “tukkkk” ada sebuah benda yang jatuh di depan Finny, ia mengambilnya dan berusaha membukanya. Sepertinya barang itu sudah tidak asing lagi bagi Ricko.

“Oh, Tuhan ituu…ituu…Finnyyyyyyyyyyyy buang benda itu!!!” teriak Ricko yang suaranya terdengar sampai ke tetangga sebelah.

“Memangnya benda apa sih ini?” kata Finny yang agaknya tidak menghiraukan kata-kata Ricko. Karena rasa penasaran dan tidak mau mendengarkan suaminya ia membukanya. Dan terbukalah kotak music pembawa maut itu. Ricko lupa untuk memusnakannya. Jiwa Finny terhembus masuk ke dalamnya.

“Toloooonggg….” Teriak Finny

“Finny, jangan tinggalkan aku!”

Tetapi semua sia-sia Finny sudah tiada. Bulan demi bulan berlalu musibah yang besar juga terjadi Ricko yang terbeban dengan semua itu kini menjadi orang gila, dan tidak waras. Ia hanya tidur di depan pertokoan dan berpakain bolong-bolong. Kedua orang tua mereka juga sangat terbebani dan selalu berusaha membawa Ricko ke rumah sakit jiwa, tetapi sangat sulit untuk merehabilitasinya, ia sering memukuli pasien-pasien lain yang berada di rumah sakit jiwa itu.

Kini rumah tempat tinggal Ricko, menurut tetangga dan orang-orang yang lewat sering terdengar suara orang menagis, dan sudah menjadi rumah yang sangat angker. Mungkin karena jiwa istrinya yang tidak tenang.

 

 

 

                                                                                   

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s